Perbedaan Korea Selatan Dan Korea Utara

Standar

Perseturuan korea utara dan korea selatan makin memanas saja. Kedua negara yang masih bisa dibilang saudara ini semakin menjaga jarak bahkan saling menyerang. Masing-masing pihak mempunyai alasan untuk melakukan serangan mulai dari provokasi militer ataupun sekedar membalas serangan. Di satu pihak, Serangan ke Pulau Yeonpyeong yang menewaskan 2 marinir dan 2 warga sipil Korsel beberapa waktu lalu  kemungkinan merupakan perintah Kim Jong Il sendiri, demikian sebut sebuah sumber dari pemerintahan Korsel.

 


Pejabat Seoul sendiri enggan berkomentar terhadap laporan itu. Provokasi yang dimaksud yaitu adanya pihakkorsel gelar pasukan di kawasan laut yang menjadi perbatasan dengan Korut. Apalagi setelah serangan artileri Selasa lalu, AS dan Korsel bersepakat untuk menggelar latihan perang bersama di tempat yang sama pada 28 November 2010. Dalam latihan perang itu, AS mengerahkan kapal induk USS George Washington. Kapal induk ini membawa 75 unit pesawat tempur dan 6.000 orang tentara.

Namun Korut menolak tawaran perundingan yang diajukan oleh AS. Perundingan ini tadinya dimaksudnya untuk meredakan ketegangan dan saling klarifikasi terkait aksi saling bombardir pada Selasa silam.

 

pihak Amerika Serikat berpendapat tindakan Korea Utara itu merupakan tindakan terisolasi terkait dengan perubahan kepemimpinan di Pyongyang. Kalangan pengamat juga mengatakan Korut melakukan penembakan untuk memoles Kim muda yang kurang dikenal dan kurang berpengalaman. Di usia 27 tahun, Kim muda telah menyandang jenderal bintang empat, yang nantinya akan menjadi penerus kepemimpinan, karena sang pemimpin yang juga sang ayah kerap sakit. Sebuah selongsong roket juga ditemukan ,yang disinyalir  digunakan Korea Utara (Korut) untuk menyerang Pulau Yeonpyeong. Hal ini membuktikan Korut menggunakan senjata berdaya ledak tinggi untuk menyerang warga sipil Korsel.


Park Geun-hye adalah politisi wanita berpengaruh Korea Selatan. Dia putri mantan presidan Korsel Park Chung-hee.  Park sempat bertandang ke Washington enam tahun silam. Dia disambut Menteri Pertahanan AS saat itu, Donald Rumsfeld.

Di depan Park, Rumsfeld melakukan presentasi tentang negeri seteru Park: Korea Utara. Dia membentang foto pencitraan satelit semenanjung Korea pada malam hari. 
Hasil foto itu seperti langit dan bumi. Korea bagian selatan mandi cahaya. Sementara tetangganya di utara dibekap gelap.

Bagi mereka soal terang atau gelap itu penting. Sebab, kata hasil riset dua tim peneliti AS, itu terkait dengan pendapatan warga di suatu wilayah. Karenanya, mereka pun mengamati perubahan cahaya lampu malam di negara yang tak punya statistik ekonomi pasti, seperti Irak, Aljazair, dan Haiti.

Situs web Chosun Ilbo melaporkan bahwa National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mencatat cahaya lampu malam yang dihasilkan Korut hanya sekitar dua persen dari Korsel. Korut memang tengah mengalami krisis ekonomi, kesulitan pangan, dan pembatasan listrik.

 

Listrik hanya menyala beberapa jam sehari. Menurut The Telegraph, kereta api listrik di Korut sering ngadat, dan berhenti di tengah jalan. Kadang kereta kembali beroperasi setelah sejam, sehari, atau bahkan dua hari kemudian. Tak heran bila di malam hari Korut terlihat gelap gulita dari angkasa. Tak hanya itu, Korut juga dikenal negara paling ‘offline’ di seluruh dunia. Negara ini seperti terputus dari komunikasi dengan dunia luar. Koneksi internet dan ponsel amat jarang dijumpai. Laporan LSM yang memperjuangkan kebebasan pers, Reporters Sans Frontierès, bahkan sempat menjuluki negara ini sebagai ‘Lubang Hitam Internet terburuk di dunia’.

Dihukum mati

Dua Korea itu memang tak serupa. Korsel adalah negara berkoneksi internet terbaik di dunia. Lebih dari 80 persen rumah terhubung sambungan internet berkecepatan tinggi. Perusahan hosting internet asal AS,  Akamai, mengatakan rakyat Korsel adalah penikmat koneksi internet tercepat di dunia. Negara ini juga punya pelanggan internet pita lebar nirkabel terbesar. 

Di sisi lain, Korut bisa dibilang masih berada di alam analog. Menurut laporan Reporters Sans Frontierès berjudul “Enemies of the Internet, Countries under Surveillance” tahun lalu, jaringan lnternet di sana dihubungkan lewat satelit ke server di luar negeri. Fasilitas itu hanya bisa diakses sebagian kecil orang Korut, yakni pejabat berpangkat tinggi, dan diplomat luar negeri.  

Rakyat biasa hanya boleh terhubung jaringan Intranet besar ‘Kwangmyong’. Jaringan itu tersedia selama 24 jam melalui koneksi dial up. Kwangmyong menyediakan inbox email, informasi berita lokal berisi propaganda, maupun informasi dari situs web luar Korut yang telah disensor. 

Kwangmyong juga menyediakan akses data kepada tiga sumber bank data besar: Grand People’s Study House (perpustakaan besar Korut) serta perpustakaan Universitas Kim Il-Sung, dan Kim Chaek Universities. 

Layanan selular berjangkauan terbatas mulai diperkenalkan di Korut oleh perusahaan Mesir Orascom, sejak 2008. Namun, tarif selular itu sangat mahal. Gaeatnya, ia tak menyediakan sambungan internasional. Para pelanggan itu pun tak luput dari pemantauan pemerintah. Pada 2007 lalu, misalnya, rezim Korut menghukum mati seorang pemakai telepon seluler. Ia diketahui melakukan panggilan internasional ke luar negeri.

Warnet atau cyber cafe sangat jarang dijumpai di Korut. Padahal, warnet hanya menyediakan koneksi ke jaringan Kwangmyong, tidak ke jaringan Internet internasional. Kedai internet itu dikontrol ketat oleh satu-satunya penyedia akses resmi milik negara, Korean Computer Center (KCC). 

Akibatnya, Internet bagi warga Korut, tak lebih seperti rumor. Sejak empat tahun terakhir,  warga Korut diberi jatah makanan setiap bulan. Mereka sudah cukup repot mencari cara bertahan hidup, ketimbang membuang waktu ke warnet untuk berselancar di dunia maya.

Sup rumput?

Bencana kelaparan dahsyat mengintai Korut. Bencana ini diramalkan lebih buruk dari bencana serupa pada 1990-an, yang memakan korban sekitar sejuta jiwa. World Food Programme, badan PBB yang mengurusi masalah pangan, memperkirakan enam juta warga Korut terancam jiwanya. Akar bencana ini adalah gagal panen akibat musim dingin panjang, dan juga banjir baru-baru ini. 

Situasinya memang buruk. Bahkan jika laporan Telegraph benar, orang-orang di sana kabarnya sampai harus mencari tanaman liar di pinggir kota untuk dimakan. “Warga kami sangat miskin, mereka harus ke gunung mencari rerumputan untuk dibuat sup. Beberapa orang memakan pupuk, karena mereka tidak mendapat nasi atau jagung,” ujar Kim Yeong, 68, warga Korut yang baru saja kabur ke China. 

Bisa dibayangkan, di tengah ancaman kelaparan,  Internet dan kebutuhan informasi adalah prioritas kesekian. Apalagi, untuk membayar koneksi warnet selama sejam saja, pengunjung musti merogoh koceknya sebesar US$ 8,19 (sekitar Rp 70 ribu), atau hampir separuh dari penghasilan rata-rata bulanan rakyat negara itu.

Revolusi digital

Tapi toh gelombang revolusi digital tak bisa dibendung. Seperti dikutip dari AP, perlahan tapi pasti, Korut mulai melirik teknologi informasi. Kredo baru pun bergema:  memanfaatkan iptek membangun ekonomi. 

Dimulai sejak ulang tahun ke-100 hari lahirnya ‘Bapak Bangsa’ Kim Il Sung, pemerintah Korut memproklamirkan kredo tadi menjadi misi negara. Slogan baru mulai diperkenalkan. 

Dalam editorial pergantian tahun ini, Korut menekankan pentingnya sains dan teknologi di era TI ini.  Sejak akhir tahun, istilah ‘CNC’ (computer numerical control) secara berkala mulai sering dijumpai di media pemerintah, poster propaganda, kaus oblong, dan permainan massal Arirang. 

Kampus pun mulai diberi berbagai fasilitas pendukung. Di Universitas Kim Il Sung, misalnya. Kampus ini tak punya pemanas bagi para siswa di musim dingin,  tapi punya perpustakaan baru supercanggih dengan koleksi 2,8 juta buku digital dari berbagai negara. Itu termasuk buku teks berbahasa Inggris terbitan McGraw-Hill.

 

Di kelas, mahasiswa mencatat  kuliah di komputer yang bersistem operasi Linux. Mereka terhubung ke intranet melalui router nirkabel 3Com yang terpasang di dinding kelas. Kuliah juga bisa dilakukan jarak jauh, tanpa harus hadir di kelas. Materi ajar bisa dipancarkan real time ke seluruh kampus melalui webcam.

“Bagi orang Korea Utara, TI adalah topik baru yang lagi hangat,” kata Paul Tjia, seorang konsultan TI asal Belanda yang sudah tahunan bekerjasama dengan perusahaan Korut. Sebab, ini akan membuka kesempatan kerja baru, termasuk kesempatan kerja di luar negeri, ataupun untuk perusahaan luar negeri. 

Dari bank sampai game

Sebenarnya, teknologi komputer bukan sesuatu yang baru bagi Korut. Kim Jong Il dikenal sebagai tokoh yang melek teknologi. Ketika bertemu Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright pada 2000, ia sempat  menanyakan alamat email Albright. 

Dalam kesempatan lain, Kim juga sempat mengatakan ada tiga jenis orang bodoh hidup di abad 21. Yakni, orang merokok, yang tidak mengapresiasi musik, dan terakhir, yang tidak bisa menggunakan komputer.

Tanpa banyak publikasi, beberapa perusahaan TI Korut mengembangkan software keuangan bagi bank-bank di Timur Tengah, berbagai aplikasi untuk ponsel Jepang dan Korsel, bahkan sejumlah video game untuk konsol Nintendo dan Playstation (Lihat infografik: Korea Utara di era Digital).

Kendati AS melarang ekspor iPhone dan iPad ke negara ini, tapi para pengembang software Korut bekerja di Nosotek yang bermarkas di Pyongyang. Selama ini perusahaan itu tak absen menyuplai game untuk Facebook, iPhone, iPad, Nintendo Wii dan BlackBerry. 

Tak hanya itu, Korut juga dikenal gudangnya para hacker.  Mereka tak punya infrastruktur dahsyat, tapi sangat bernafsu melumpuhkan infrastruktur internet negara lain.  Serangan cyber 2009 menjadi salah satu contoh nyata. (Lihat Hikayat Serdadu Cyber Korut)

Misalnya, serangan yang dilancarkan hacker Korut pada Maret lalu.  Sekitar 40 situs web militer dan sipil Korsel, serta situs militer AS di Korsel kembali tumbang. Uniknya, diantaranya ada 14 situs yang pernah juga dilumpuhkan pada 2009. Menurut Dmitri Alperovitch, Wakil Presiden McAffe (perusahaan keamanan komputer), serangan itu lebih ke menguji reaksi AS dan Korsel.

Facebook

Setidaknya, kini Korut mulai membuka diri terhadap teknologi. Tahun lalu mereka membuka akun Uriminzok (artinya: Rakyat Kami – red) di Twitter, Facebook YouTube kendati isinya tak lain daripada propaganda mereka. Maskapai penerbangan milik pemerintah, Air Koryo tak ketinggalan membuka akun mereka di Facebook, dan mengundang banyak interaksi.


Tapi sebagian pengamat menilai, revolusi digital itu hanyalah strategi memuluskan suksesi yang akan dilakukan Korut kelak. Kim Jong-Il kini sakit-sakitan. Kini kekuasaan siap meluncur ke  ke tangan putra bungsunya Kim Jong-Un, yang mengecap pendidikan barat di Swiss.

Menurut pengamat Korut Brian Myers, revolusi digital bertujuan agar pemimpin baru ini nantinya dipuja dan dinantikan oleh rakyat mereka. “Kim Il Sung naik tahta sebagai seorang legenda militer. Kim Jong Il juga melakukan hal sama. Apa yang akan saya lakukan di posisi mereka, adalah mengasosiasikan (Jong-Un) dengan inovasi teknologi,” ujar profesor di bidang hubungan internasional itu.

Tak banyak informasi tentang Jong-Un, putra mahkota berusia 26 tahun itu. Banyak yang meragukan dia mampu memimpin Korut bangkit dari keterpurukan. “Mereka (pemerintah) bilang kepada kami, dia (Jon-Un) akan memberikan kesuksesan dan kebaikan di bidang politik, ekonomi, dan budaya,” kata Kim Hua, warga Korut di kota Hamhung kepadaTelegraph. 

Teknologi mungkin dapat memperbaiki kondisi masyarakat Korut. Tapi tak ada kepastian bila menyangkut Jong-Un. “Anda harus percaya kepadanya, walaupun sebenarnya Anda tidak,” ujar Kim Hua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : http://vie06.blogspot.com/2011/12/perbedaan-korea-selatan-dan-korea-utara.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s